|
kau hamparkan aku di lantaimu basahku dalam air matamu lusuhku dalam injakmu kotorku dalam acuhmu
bertahun-tahun kau gunakanku di pojok ruangan itu untuk mendengar sedih tangismu untuk simpati akan keluh kesahmu untuk kerangkeng tuhanmu dalam pelukku
muak aku dengar tangismu letihku dibawah kakimu sedihku memenjarakan tuhanmu lelahku menjadi alatmu
knapa hari ini kau tidak datangpadaku knapa hari ini tidak ada yang menginjak tubuhku kulihat senyum di bibir dan matamu ku lihat tuhanmu sudah bebas dari pelukku tuhanmu sudah tidak terpenjara di sudut ruangan itu
tinggal diriku rinduku akan asamu rinduku akan basah air matamu rinduku besenggama dengan tuhanmu
wahai anak manusia aku sedih dan gembira tangis dan tawaku untukmu sampaikan salam pada tuhanmu bahwa aku tetaplah kain tua yang tidak pantas bersenggama denganNya dan manusia tidak pantas memenjarakan diriNya aku hanya kain tua...tempatku dipojok ruangan atau sudut lemari tua
tempatNya ada di sudut hatimu bukan di sudut ruangan itu bukan dalam penjara dan pelukan kain tua bergembiralah, bersukacitalah sajadah tua ikut bahagia
|